Kembali
Wall Street Kembali Optimistis pada Emas Menjelang Keputusan Suku Bunga AS
Berita Update: 12 Sep 2026

Wall Street Kembali Optimistis pada Emas Menjelang Keputusan Suku Bunga AS

Perubahan pandangan Wall Street muncul setelah emas melewati pekan yang bergejolak. Harga emas di pasar spot, atau pasar untuk transaksi dengan penyerahan segera, membuka pekan pada 4.422,50 dolar AS per ons troi. Harga kemudian mencapai puncak mingguan 4.442,98 dolar AS per ons troi pada Selasa, sebelum tekanan jual mengambil alih. Pada Jumat, emas menyentuh titik terendah mingguan 4.292,11 dolar AS per ons troi. Harga sempat pulih, tetapi belum kembali menembus 4.400 dolar AS per ons troi. Jadi, optimisme terbaru para analis muncul ketika pemulihan harga masih belum lengkap.

Penyebab tekanannya saling berkaitan. Lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi kembali menguat. Data indeks harga produsen atau PPI menunjukkan harga produsen AS naik pada Agustus. Setelah itu, data indeks harga konsumen atau CPI masih memperlihatkan tekanan inflasi. Pasar pun semakin memperhitungkan kenaikan suku bunga dalam rapat The Fed pada 15–16 September. Bersamaan dengan penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, kondisi tersebut menekan emas. Emas tidak memberikan bunga, sehingga kenaikan imbal hasil dapat membuat aset berbunga lebih menarik sebagai pembanding.

Menariknya, ekspektasi pelaku pasar dan ekonom belum sejalan. Marc Chandler, direktur pelaksana Bannockburn Global Forex, menyebut pasar kontrak berjangka suku bunga memperhitungkan peluang kenaikan hampir 90%. Sementara itu, dalam survei Bloomberg pada 4–9 September yang ia rujuk, hanya 13 dari 48 ekonom memperkirakan kenaikan. Selisih pandangan ini membantu menjelaskan mengapa hasil rapat menjadi sangat menentukan. Optimisme Wall Street juga belum sepenuhnya diikuti responden investor ritel: kelompok yang memperkirakan harga naik masih menjadi mayoritas, tetapi keunggulannya semakin tipis setelah emas kembali mencatat penurunan mingguan.

Chandler memperkirakan emas berpotensi naik menjelang rapat FOMC, komite kebijakan moneter AS, dengan sasaran teknikal di kisaran 4.460–4.510 dolar AS per ons troi. Sasaran teknikal merupakan perkiraan berdasarkan pola pergerakan harga, bukan kepastian harga akan tercapai. Menurutnya, keputusan The Fed tetap menjadi penentu utama. Jika bank sentral tidak menaikkan suku bunga, emas berpeluang menguat. Ia juga menilai pergerakan di atas 4.540 dolar AS per ons troi akan memperbaiki gambaran teknikal. Artinya, pandangan optimistis tersebut memiliki syarat, terutama bagaimana keputusan rapat dibandingkan dengan ekspektasi pasar.

Pandangan berbeda datang dari Adam Button, kepala strategi mata uang investingLive. Ia memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga, sehingga arah emas cenderung tertekan. Namun, menurut Button, harga bisa cepat pulih jika pernyataan dan konferensi pers bank sentral tidak cukup tegas mendukung pengetatan lanjutan. Bob Haberkorn, broker komoditas senior StoneX Group, juga melihat sebagian pelaku pasar menunggu keputusan pada 16 September. Ia berpendapat ruang kenaikan suku bunga terbatas karena tingkat utang dan dampaknya terhadap ekonomi. Perkiraan kenaikan logam mulia yang ia sampaikan bergantung pada kemungkinan The Fed menahan suku bunga.

Bagi pembaca Indonesia, yang penting adalah membedakan harga acuan global dengan harga emas ritel. Sebagai gambaran, 4.400 dolar AS per ons troi setara kira-kira 141,46 dolar AS per gram, menggunakan 1 ons troi = 31,1035 gram. Ini merupakan perkiraan ekuivalen harga spot global, bukan harga ritel Antam. Nilainya dalam rupiah juga bergantung pada kurs dolar AS terhadap rupiah, sehingga pergerakan harga global saja belum cukup untuk menentukan nominal lokal.