Kembali
Lundin: Kas Melimpah Dorong Penambang Emas Besar Memburu Proyek Baru
Berita Update: 09 Sep 2026

Lundin: Kas Melimpah Dorong Penambang Emas Besar Memburu Proyek Baru

Menurut Lundin, produsen besar sudah tidak memiliki utang secara neto, artinya kas mereka dapat menutup utang yang tersisa. Perusahaan juga telah menaikkan dividen dan membeli kembali sahamnya sendiri. Namun, kemampuan menyalurkan uang melalui kedua cara itu memiliki batas. Untuk menjaga kelangsungan bisnis, mereka membutuhkan proyek yang bisa dikembangkan menjadi sumber produksi berikutnya. Lundin menilai kebutuhan inilah yang akan mendorong perusahaan besar mulai memburu proyek tambang. Jadi, tesisnya berpusat pada penggunaan kas untuk memperbarui sumber produksi, bukan kepastian bahwa harga emas segera naik lagi.

Besarnya ruang keuangan perusahaan terlihat dari data Dewan Emas Dunia. Pada kuartal pertama, rata-rata margin terhadap biaya menyeluruh untuk mempertahankan operasi tambang mencapai rekor 3.076 dolar AS per ons troi, naik 134% dalam setahun. Margin ini memberi gambaran selisih terhadap ukuran biaya tersebut, bukan laba bersih perusahaan. Sementara itu, emas diperdagangkan pada 4.390,60 dolar AS per ons troi pada Selasa, turun 14,50 dolar AS setelah sempat menyentuh 4.443,90 dolar AS. Sebagai pembanding satuan, 1 ons troi = 31,1035 gram, sehingga harga perdagangan tersebut kira-kira setara 141,16 dolar AS per gram, bukan harga jual emas ritel Indonesia.

Menariknya, Lundin melihat pergerakan yang belum merata di antara kelompok perusahaan tambang. Menurutnya, saham produsen dan pengembang proyek sudah bergerak naik, sementara perusahaan eksplorasi relatif tertinggal. Perusahaan eksplorasi mencari dan menguji endapan mineral sebelum proyeknya siap dikembangkan lebih lanjut. Di sisi lain, produsen besar membutuhkan proyek yang tidak bisa mereka hasilkan sendiri dengan cukup cepat. Pertemuan kebutuhan proyek dan ketersediaan kas menjadi dasar perkiraan akuisisi Lundin. Ia melihat potensi kenaikan besar pada perusahaan eksplorasi, tetapi pandangan itu tetap merupakan penilaian tentang masa depan, bukan hasil yang sudah terjadi.

Ternyata, Lundin juga ingin melihat biaya produksi naik, selama kenaikan itu berjalan bersama pertumbuhan produksi. Biaya menyeluruh untuk mempertahankan operasi, atau all-in sustaining costs (AISC), mencapai 1.785 dolar AS per ons troi pada kuartal pertama. Ini merupakan kuartal ke-28 berturut-turut dengan kenaikan dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Menurut Lundin, biaya yang meningkat bersamaan dengan volume dapat menandakan perusahaan mulai mengolah batuan berkadar emas lebih rendah. Pada harga tinggi, material tersebut bisa lebih layak diolah. Ia ingin produsen memaksimalkan keluaran pabrik, bukan hanya memilih material terbaik untuk mempercantik hasil jangka pendek.

Namun, harga tinggi tidak menghapus semua hambatan. Royalti pemerintah naik 85% dibandingkan setahun sebelumnya, sementara harga emas naik 70%. Porsi royalti dalam biaya produksi juga meningkat dari 6% menjadi 12% sejak 2021. Lundin mengatakan pemerintah cenderung menegosiasikan ulang kesepakatan ketika keuntungan penambang membesar. Ia juga menekankan bahwa masalah perizinan tetap bisa menghambat proyek meskipun harga emas tinggi. Risiko lain datang dari penerbitan saham baru yang berlebihan: dana memang bertambah, tetapi kepemilikan pemegang saham lama dapat terdilusi. Karena itu, kas melimpah belum menjamin setiap proyek atau perusahaan akan berhasil.

Bagi pembeli emas Indonesia, kabar ini membantu menjelaskan hubungan harga global dengan keputusan produksi di tambang. Harga tinggi memperbesar margin, membuka peluang pengolahan material berkadar lebih rendah, dan menyediakan dana untuk pengembangan proyek. Namun, rencana akuisisi belum sama dengan tambahan pasokan yang langsung tersedia. Harga emas dalam rupiah juga dipengaruhi kurs dolar AS terhadap rupiah, sehingga angka global dalam dolar tidak bisa langsung dibaca sebagai harga ritel lokal. Yang penting, bedakan prospek bisnis perusahaan tambang dari pergerakan harga emas fisik.