Inflasi dan Lonjakan Minyak Tekan Emas 1,90%, Imbal Hasil Obligasi Melonjak
Pada perdagangan Kamis sore di AS, harga emas di pasar spot berada dekat 4.317,10 dolar AS per ons troi, turun 1,90%. Nilainya setara sekitar 138,80 dolar AS per gram, menggunakan konversi 1 ons troi = 31,1035 gram. Ini merupakan perkiraan nilai emas spot global, bukan harga ritel emas Antam. Penurunan perak lebih tajam: harganya berada di 63,500 dolar AS per ons troi, turun 5,46% pada sesi tersebut. Menariknya, kebutuhan mencari perlindungan dari perang belum cukup menopang kedua logam mulia ketika pasar menghadapi lonjakan biaya energi dan imbal hasil obligasi secara bersamaan.
Pemicu pentingnya datang dari Indeks Harga Produsen (PPI), yang mengukur perubahan harga di tingkat produsen. Pada Agustus, indeks ini naik 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya dan 5,4% dibandingkan setahun sebelumnya. Biaya energi dan solar menjadi pendorong kenaikan tersebut. Sementara itu, pengajuan tunjangan pengangguran mingguan tetap rendah. Gabungan data ini memperkuat perkiraan bahwa The Fed, bank sentral AS, akan kembali menaikkan suku bunga. Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka suku bunga acuan AS menunjukkan probabilitas 71% untuk kenaikan sebesar 25 basis poin pada pekan berikutnya. Angka tersebut mencerminkan perkiraan pasar, bukan keputusan yang sudah diumumkan.
Ekspektasi suku bunga itu menjadi jalur utama tekanan terhadap emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak ke 4,943%, mencatat penutupan tertinggi sejak Oktober 2023. Indeks dolar AS juga menguat setelah laporan PPI. Emas tidak memberikan pembayaran bunga, sehingga kenaikan imbal hasil obligasi memperbesar potensi pendapatan bunga yang dilewatkan ketika seseorang memegang emas. Dolar yang lebih kuat turut menambah tekanan karena emas dihargai dalam mata uang tersebut. Jadi, pada sesi ini, pengaruh inflasi dan imbal hasil lebih dominan daripada permintaan perlindungan akibat perang. Status emas sebagai aset aman tidak membuat harganya selalu naik ketika konflik memburuk.
Ternyata, konflik juga menekan emas melalui pasar minyak. Serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkat, sementara pasukan Houthi merebut pelabuhan Mocha di Yaman dan menambah risiko lalu lintas Laut Merah. Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 6,7% menjadi 102,48 dolar AS per barel. Brent naik 6,3% menjadi 107,63 dolar AS per barel. Keduanya mencatat penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Rantai pengaruhnya cukup jelas: gangguan pasokan dan pengiriman mendorong harga energi, memperkuat kekhawatiran inflasi, lalu menambah alasan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Perhatian berikutnya tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) hari Jumat, masukan ekonomi utama terakhir sebelum pertemuan The Fed pada 15–16 September. Analisis dalam laporan tersebut menyebut tekanan terhadap emas bisa berlanjut jika CPI tidak cukup mereda untuk mengubah perkiraan kenaikan suku bunga. Secara teknikal, emas sudah turun melewati rata-rata bergerak eksponensial (EMA) 200 hari di 4.341,10 dolar AS per ons troi dan menguji area penopang terdekat di 4.315,78 dolar AS per ons troi. Jika area itu ditembus ke bawah, laporan tersebut menempatkan 4.290,00 dolar AS per ons troi sebagai sasaran penurunan berikutnya. Itu merupakan skenario bersyarat, bukan kepastian harga.
Bagi pembeli emas Indonesia, yang penting adalah memahami hubungan harga global dengan kurs rupiah. Nilai acuan emas dalam rupiah dipengaruhi harga emas dalam dolar AS sekaligus kurs dolar AS terhadap rupiah. Jika rupiah melemah terhadap dolar AS, pelemahan itu dapat mengimbangi sebagian penurunan harga emas global saat dikonversi ke rupiah. Namun, penguatan indeks dolar dalam laporan ini belum menunjukkan besarnya perubahan kurs rupiah. Karena sumber tidak menyertakan kurs bertanggal, nilai rupiah per gram tidak dihitung.
Pemicu pentingnya datang dari Indeks Harga Produsen (PPI), yang mengukur perubahan harga di tingkat produsen. Pada Agustus, indeks ini naik 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya dan 5,4% dibandingkan setahun sebelumnya. Biaya energi dan solar menjadi pendorong kenaikan tersebut. Sementara itu, pengajuan tunjangan pengangguran mingguan tetap rendah. Gabungan data ini memperkuat perkiraan bahwa The Fed, bank sentral AS, akan kembali menaikkan suku bunga. Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka suku bunga acuan AS menunjukkan probabilitas 71% untuk kenaikan sebesar 25 basis poin pada pekan berikutnya. Angka tersebut mencerminkan perkiraan pasar, bukan keputusan yang sudah diumumkan.
Ekspektasi suku bunga itu menjadi jalur utama tekanan terhadap emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak ke 4,943%, mencatat penutupan tertinggi sejak Oktober 2023. Indeks dolar AS juga menguat setelah laporan PPI. Emas tidak memberikan pembayaran bunga, sehingga kenaikan imbal hasil obligasi memperbesar potensi pendapatan bunga yang dilewatkan ketika seseorang memegang emas. Dolar yang lebih kuat turut menambah tekanan karena emas dihargai dalam mata uang tersebut. Jadi, pada sesi ini, pengaruh inflasi dan imbal hasil lebih dominan daripada permintaan perlindungan akibat perang. Status emas sebagai aset aman tidak membuat harganya selalu naik ketika konflik memburuk.
Ternyata, konflik juga menekan emas melalui pasar minyak. Serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkat, sementara pasukan Houthi merebut pelabuhan Mocha di Yaman dan menambah risiko lalu lintas Laut Merah. Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 6,7% menjadi 102,48 dolar AS per barel. Brent naik 6,3% menjadi 107,63 dolar AS per barel. Keduanya mencatat penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Rantai pengaruhnya cukup jelas: gangguan pasokan dan pengiriman mendorong harga energi, memperkuat kekhawatiran inflasi, lalu menambah alasan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Perhatian berikutnya tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) hari Jumat, masukan ekonomi utama terakhir sebelum pertemuan The Fed pada 15–16 September. Analisis dalam laporan tersebut menyebut tekanan terhadap emas bisa berlanjut jika CPI tidak cukup mereda untuk mengubah perkiraan kenaikan suku bunga. Secara teknikal, emas sudah turun melewati rata-rata bergerak eksponensial (EMA) 200 hari di 4.341,10 dolar AS per ons troi dan menguji area penopang terdekat di 4.315,78 dolar AS per ons troi. Jika area itu ditembus ke bawah, laporan tersebut menempatkan 4.290,00 dolar AS per ons troi sebagai sasaran penurunan berikutnya. Itu merupakan skenario bersyarat, bukan kepastian harga.
Bagi pembeli emas Indonesia, yang penting adalah memahami hubungan harga global dengan kurs rupiah. Nilai acuan emas dalam rupiah dipengaruhi harga emas dalam dolar AS sekaligus kurs dolar AS terhadap rupiah. Jika rupiah melemah terhadap dolar AS, pelemahan itu dapat mengimbangi sebagian penurunan harga emas global saat dikonversi ke rupiah. Namun, penguatan indeks dolar dalam laporan ini belum menunjukkan besarnya perubahan kurs rupiah. Karena sumber tidak menyertakan kurs bertanggal, nilai rupiah per gram tidak dihitung.