Dolar Melemah, Harga Emas Naik 0,96% Meski Risiko Kenaikan Suku Bunga Membayangi
Harga emas spot, yaitu harga untuk transaksi dengan penyerahan segera, berada di sekitar 4.396,40 dolar AS per ons troi, naik 0,96% saat laporan ditulis. Dengan 1 ons troi = 31,1035 gram, nilainya kira-kira 141,35 dolar AS per gram, sebagai estimasi harga spot global, bukan harga ritel Antam. Perak naik lebih tinggi, sebesar 2,20%, ke 67,080 dolar AS per ons troi. Pelemahan dolar menopang keduanya, sementara perak juga mendapat dorongan teknikal setelah minat beli kembali mengangkat harga melewati area 67 dolar AS per ons troi.
Menariknya, kenaikan emas berlangsung ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut meningkat. Imbal hasil obligasi berjangka 10 tahun berada di sekitar 4,8%, mendekati level tertinggi sejak Oktober 2023. Kondisi ini biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga. Namun, dalam perdagangan tersebut, pengaruh dolar yang melemah dan kebutuhan perlindungan terhadap risiko geopolitik serta fiskal lebih kuat. Dolar yang melemah membuat emas berdenominasi dolar relatif lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain, sehingga membantu menopang permintaan di tengah tekanan suku bunga.
Konflik AS-Iran menjelaskan mengapa harga minyak dan emas bisa sama-sama mendapat dorongan, tetapi dengan konsekuensi berbeda. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker Iran. AS membantah adanya kerusakan pada kapal perangnya. Gangguan jalur energi tersebut menambah ketidakpastian dan kebutuhan aset pelindung. Pada saat yang sama, minyak Brent ditutup di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Minyak yang lebih mahal meningkatkan risiko inflasi, mendorong imbal hasil obligasi, dan mempertahankan alasan untuk menaikkan suku bunga.
Karena itu, perhatian pasar tertuju pada data inflasi pekan ini. Indeks harga produsen (PPI) Agustus dijadwalkan keluar Kamis, disusul indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat. Pasar memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed, bank sentral AS, akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Menurut analisis dalam laporan tersebut, data inflasi yang kuat dapat memperkuat perkiraan kenaikan suku bunga dan menekan emas. Sebaliknya, rangkaian data yang lebih lunak dapat membuka ruang lebih besar bagi pandangan Waller yang mendukung jeda kenaikan suku bunga.
Yang penting, kenaikan kali ini belum memastikan pemulihan harga akan berlanjut. Analisis teknikal dalam laporan menempatkan 4.422,00 dolar AS per ons troi sebagai batas atas terdekat yang perlu dilewati agar penguatan dapat berlanjut. Pergerakan yang bertahan di atasnya membuka sasaran berikutnya di 4.465,00, lalu 4.512,00 dolar AS per ons troi. Di sisi bawah, penembusan 4.347,00 dolar AS per ons troi membuka risiko penurunan menuju 4.290,00, kemudian 4.263,00 dolar AS per ons troi. Angka-angka ini merupakan level pengamatan teknikal, bukan kepastian arah harga.
Bagi pembaca Indonesia, hubungan harga emas global dengan rupiah menjadi konteks tambahan. Harga internasional menggunakan dolar AS, sehingga perubahan kurs dolar terhadap rupiah ikut memengaruhi nilai ekuivalennya dalam rupiah. Pelemahan indeks dolar global sendiri belum memastikan rupiah menguat dengan besaran yang sama. Karena sumber tidak menyertakan kurs dolar terhadap rupiah bertanggal, konversi ke rupiah per gram tidak ditampilkan. Pergerakan emas global juga tidak bisa langsung disamakan dengan perubahan harga emas ritel di Indonesia.
Menariknya, kenaikan emas berlangsung ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut meningkat. Imbal hasil obligasi berjangka 10 tahun berada di sekitar 4,8%, mendekati level tertinggi sejak Oktober 2023. Kondisi ini biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga. Namun, dalam perdagangan tersebut, pengaruh dolar yang melemah dan kebutuhan perlindungan terhadap risiko geopolitik serta fiskal lebih kuat. Dolar yang melemah membuat emas berdenominasi dolar relatif lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain, sehingga membantu menopang permintaan di tengah tekanan suku bunga.
Konflik AS-Iran menjelaskan mengapa harga minyak dan emas bisa sama-sama mendapat dorongan, tetapi dengan konsekuensi berbeda. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker Iran. AS membantah adanya kerusakan pada kapal perangnya. Gangguan jalur energi tersebut menambah ketidakpastian dan kebutuhan aset pelindung. Pada saat yang sama, minyak Brent ditutup di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Minyak yang lebih mahal meningkatkan risiko inflasi, mendorong imbal hasil obligasi, dan mempertahankan alasan untuk menaikkan suku bunga.
Karena itu, perhatian pasar tertuju pada data inflasi pekan ini. Indeks harga produsen (PPI) Agustus dijadwalkan keluar Kamis, disusul indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat. Pasar memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed, bank sentral AS, akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Menurut analisis dalam laporan tersebut, data inflasi yang kuat dapat memperkuat perkiraan kenaikan suku bunga dan menekan emas. Sebaliknya, rangkaian data yang lebih lunak dapat membuka ruang lebih besar bagi pandangan Waller yang mendukung jeda kenaikan suku bunga.
Yang penting, kenaikan kali ini belum memastikan pemulihan harga akan berlanjut. Analisis teknikal dalam laporan menempatkan 4.422,00 dolar AS per ons troi sebagai batas atas terdekat yang perlu dilewati agar penguatan dapat berlanjut. Pergerakan yang bertahan di atasnya membuka sasaran berikutnya di 4.465,00, lalu 4.512,00 dolar AS per ons troi. Di sisi bawah, penembusan 4.347,00 dolar AS per ons troi membuka risiko penurunan menuju 4.290,00, kemudian 4.263,00 dolar AS per ons troi. Angka-angka ini merupakan level pengamatan teknikal, bukan kepastian arah harga.
Bagi pembaca Indonesia, hubungan harga emas global dengan rupiah menjadi konteks tambahan. Harga internasional menggunakan dolar AS, sehingga perubahan kurs dolar terhadap rupiah ikut memengaruhi nilai ekuivalennya dalam rupiah. Pelemahan indeks dolar global sendiri belum memastikan rupiah menguat dengan besaran yang sama. Karena sumber tidak menyertakan kurs dolar terhadap rupiah bertanggal, konversi ke rupiah per gram tidak ditampilkan. Pergerakan emas global juga tidak bisa langsung disamakan dengan perubahan harga emas ritel di Indonesia.