Data Pekerjaan AS Kuat, Emas dan Perak Turun karena Peluang Kenaikan Bunga The Fed Menguat
Ternyata laporan tenaga kerja Agustus jadi pemicu utama pembalikan arah pasar emas dan perak akhir pekan ini. Data pekerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) AS bertambah 162.000, jauh di atas perkiraan pasar, sementara revisi angka Juni dan Juli menambahkan 55.000 pekerjaan baru. Tingkat pengangguran sendiri bertahan di 4,1%. Angka-angka ini membuat pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan FOMC 15-16 September mendatang, dengan probabilitas bergeser ke kisaran 60%-65%, naik signifikan dari posisi yang sebelumnya nyaris seimbang sebelum data dirilis.
Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik ke kisaran 4,37%-4,38%, level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield tenor 10 tahun berada di sekitar 4,77%-4,78%. Indeks dolar AS pun menguat, menekan harga emas dan perak yang biasanya bergerak berlawanan arah dengan dolar. Menariknya, kondisi ini menggeser sentimen pasar dari pandangan yang sebelumnya condong pada jeda kenaikan suku bunga, kembali ke pandangan yang lebih waspada terhadap risiko inflasi.
Secara teknikal, harga emas spot sempat jatuh dari kisaran US$4.490 ke titik terendah intraday di sekitar US$4.365, sebelum kembali pulih ke atas US$4.420 dan berakhir sesi di sekitar US$4.429,40 per ons troi, atau kira-kira US$142,4 per gram (satu ons troi setara 31,1035 gram). Posisi ini membuat emas terjebak di antara level resistance US$4.489,87 dan zona support US$4.319,50 hingga US$4.230,51. Target teknikal ke atas berikutnya berada di US$4.534,09 lalu US$4.538,77, sementara target ke bawah berikutnya adalah US$4.239,55 lalu kembali ke US$4.230,51.
Perak juga tak luput dari tekanan yang sama, melemah 1,21% ke level US$66,040 per ons troi. Harga sempat diuji mendekati zona rata-rata pergerakan (moving average) di US$65,660-US$65,200, namun belum berhasil ditembus ke bawah secara meyakinkan. Resistance berikutnya ada di US$67,21, lalu US$68,74 dan US$70,76, sedangkan support berikutnya di US$65,660, US$65,200, dan US$63,80.
Di bursa saham AS, S&P 500 turun 29,11 poin (0,4%) ke 7.718,60, Dow Jones Industrial Average melemah 271,86 poin (0,5%) ke 53.414,25, Nasdaq Composite turun 77,07 poin (0,3%) ke 26.506,99, sementara Russell 2000 justru naik 7,38 poin (0,2%) ke 2.975,65. Bursa Eropa bergerak variatif, dengan STOXX Europe 600 naik 0,12% ke 649,88. Yang penting, katalis berikutnya adalah rilis indeks harga produsen (PPI) dan indeks harga konsumen (CPI) pekan depan, dengan data CPI dijadwalkan terbit 11 September, sebelum pertemuan FOMC 15-16 September.
Selat Hormuz masih jadi saluran risiko geopolitik utama yang memengaruhi harga minyak, ekspektasi inflasi, dan permintaan aset lindung nilai. Harga solar (diesel) di AS menyentuh rekor rata-rata US$5,85 per galon akibat konflik AS-Iran yang telah berlangsung enam bulan dan terus mengganggu arus bahan bakar global, dengan sebagian besar lalu lintas tanker masih terhambat di sekitar Hormuz. Brent diperdagangkan di sekitar US$94,26 per barel dan WTI di sekitar US$89,87 per barel. Yang menarik, situasi ini membuat posisi emas serba dilematis: risiko geopolitik mendukung permintaan aset lindung nilai, tapi kenaikan harga energi memperkuat tekanan inflasi dan alasan The Fed menaikkan suku bunga, sekaligus menaikkan biaya peluang memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Dilansir Kitco News, dinamika ini jadi pengingat bahwa harga emas bergerak mengikuti banyak faktor sekaligus.
Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik ke kisaran 4,37%-4,38%, level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield tenor 10 tahun berada di sekitar 4,77%-4,78%. Indeks dolar AS pun menguat, menekan harga emas dan perak yang biasanya bergerak berlawanan arah dengan dolar. Menariknya, kondisi ini menggeser sentimen pasar dari pandangan yang sebelumnya condong pada jeda kenaikan suku bunga, kembali ke pandangan yang lebih waspada terhadap risiko inflasi.
Secara teknikal, harga emas spot sempat jatuh dari kisaran US$4.490 ke titik terendah intraday di sekitar US$4.365, sebelum kembali pulih ke atas US$4.420 dan berakhir sesi di sekitar US$4.429,40 per ons troi, atau kira-kira US$142,4 per gram (satu ons troi setara 31,1035 gram). Posisi ini membuat emas terjebak di antara level resistance US$4.489,87 dan zona support US$4.319,50 hingga US$4.230,51. Target teknikal ke atas berikutnya berada di US$4.534,09 lalu US$4.538,77, sementara target ke bawah berikutnya adalah US$4.239,55 lalu kembali ke US$4.230,51.
Perak juga tak luput dari tekanan yang sama, melemah 1,21% ke level US$66,040 per ons troi. Harga sempat diuji mendekati zona rata-rata pergerakan (moving average) di US$65,660-US$65,200, namun belum berhasil ditembus ke bawah secara meyakinkan. Resistance berikutnya ada di US$67,21, lalu US$68,74 dan US$70,76, sedangkan support berikutnya di US$65,660, US$65,200, dan US$63,80.
Di bursa saham AS, S&P 500 turun 29,11 poin (0,4%) ke 7.718,60, Dow Jones Industrial Average melemah 271,86 poin (0,5%) ke 53.414,25, Nasdaq Composite turun 77,07 poin (0,3%) ke 26.506,99, sementara Russell 2000 justru naik 7,38 poin (0,2%) ke 2.975,65. Bursa Eropa bergerak variatif, dengan STOXX Europe 600 naik 0,12% ke 649,88. Yang penting, katalis berikutnya adalah rilis indeks harga produsen (PPI) dan indeks harga konsumen (CPI) pekan depan, dengan data CPI dijadwalkan terbit 11 September, sebelum pertemuan FOMC 15-16 September.
Selat Hormuz masih jadi saluran risiko geopolitik utama yang memengaruhi harga minyak, ekspektasi inflasi, dan permintaan aset lindung nilai. Harga solar (diesel) di AS menyentuh rekor rata-rata US$5,85 per galon akibat konflik AS-Iran yang telah berlangsung enam bulan dan terus mengganggu arus bahan bakar global, dengan sebagian besar lalu lintas tanker masih terhambat di sekitar Hormuz. Brent diperdagangkan di sekitar US$94,26 per barel dan WTI di sekitar US$89,87 per barel. Yang menarik, situasi ini membuat posisi emas serba dilematis: risiko geopolitik mendukung permintaan aset lindung nilai, tapi kenaikan harga energi memperkuat tekanan inflasi dan alasan The Fed menaikkan suku bunga, sekaligus menaikkan biaya peluang memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Dilansir Kitco News, dinamika ini jadi pengingat bahwa harga emas bergerak mengikuti banyak faktor sekaligus.